Home UMKM UMKM Indonesia Serap 97 Persen Tenaga Kerja, Hal Ini yang Disoroti

UMKM Indonesia Serap 97 Persen Tenaga Kerja, Hal Ini yang Disoroti

ILUSTRASI

UMKM Indonesia Serap 97 Persen Tenaga Kerja, Hal Ini yang Disoroti

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

GKNNEWS.COM – Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas meminta kebijakan ekonomi pemerintahan mendatang berpihak pada usaha rakyat kecil.

Kebijakan ekonomi yang mendorong pemberdayaan dan peningkatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Anwar mengaku ‘sakit hati’ dengan mekanisme pemodalan bagi pelaku UMKM yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) dalam Peraturan BI Nomor 14/22/PBI/2012.

Peraturan itu mewajibkan kepada bank menyalurkan kredit UMKM sebesar minimum 20% dari total portofolio kreditnya.

Berdasarkan data BI, pada 2016 sektor UMKM mendominasi 99,9 persen unit bisnis di Indonesia dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja.

Sementara data Kementerian Koperasi mencatat sampai tahun 2017 jumlah UMKM di Indonesia hampir mencapai 63 juta.

“Pembiayaan pada UMKM minimal 20 persen lalu sisanya kemana? Untuk usaha-usaha besar. Siapa yang ada di usaha besar itu. (Aliran modal) perginya kepada pengusaha-pengusaha kaya,” ujar Anwar dalam seminar dan workshop ekonomi Pemuda Muhammadiyah di Jakarta Utara.

Anwar menilai, kebijakan ekonomi yang tidak berpihak pada rakyat kecil hanya akan mempertajam kesenjangan sosial.

Jika kesenjangan semakin melebar, katanya, Indonesia akan rawan dengan konflik dan perpecahan.

“Saya bilang sama pak Jokowi, kalau situasi ini terus berlanjut maka negeri ini tidak akan maju dan umat Islam sebagai mayoritas akan disalahkan. Semestinya ekonomi ada di tangan umat,” katanya.

Mengutip laporan Kontan, sampai akhir 2018, kredit UMKM terus tumbuh.

Berdasarkan data Analisis Uang Beredar Bank Indonesia per Desember 2018 total kredit UMKM mencapai Rp 970 triliun, naik 9,9 persen dari periode yang sama tahun 2017.

Pertumbuhan terbesar terjadi pada kredit mikro yang naik 14,1% yoy di tahun lalu menjadi Rp 236,9 triliun. Disusul oleh kredit kecil yang masih tumbuh dua digit menembus 10,7% yoy menjadi Rp 298,1 triliun. Walau pertumbuhannya relatif lebih rendah dibanding bulan November 2018 yang meningkat 11,6%.

Sementara untuk kredit menengah, pertumbuhannya belum terlalu deras, hanya naik 7,1% yoy menjadi Rp435 triliun. Hanya saja, tingkat pertumbuhan kredit menengah di bulan Desember 2018 sudah membaik bila dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya yang tumbuh 6,2%. (*)

LINK SUMBER ARTIKEL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here