Home Headline Akhir-akhir Ini Pendapatan Turun Drastis, Nelayan Simeulue ‘Ngadu’ ke BRI

Akhir-akhir Ini Pendapatan Turun Drastis, Nelayan Simeulue ‘Ngadu’ ke BRI

ilustrasi nelayan

Akhir-akhir Ini Pendapatan Turun Drastis, Nelayan Simeulue ‘Ngadu’ ke BRI

Para nelayan pun harus gigit jari karena hasil tangkapan jadi berkurang. Akhir-akhir ini, pendapatan dari hasil laut turun drastis dari ratusan juta saat angin musim timur, menjadi sekitar Rp 30 juta hingga Rp 50 juta di saat angin musim barat tiba.

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

GKNNEWS.COM – Kehidupan masyarakat pesisir mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Seperti warga di Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh.

Namun, hasil tangkapan berkurang ketika angin musim barat tiba.

Para nelayan pun harus gigit jari karena hasil tangkapan jadi berkurang.

Hal ini juga dirasakan oleh Wahyuni (38), adalah pemilik UMKM UD Abi.

Akhir-akhir ini, pendapatan dari hasil laut turun drastis dari ratusan juta saat angin musim timur, menjadi sekitar Rp 30 juta hingga Rp 50 juta di saat angin musim barat tiba.

“Ya kalau musim barat tiba paling sedikit minimal tertutupi biaya buat para anggota bagan,” tuturnya.

Sebagai pemilik usaha penangkaran ikan dan hasil laut, ia juga memiliki enam bagan atau kapal yang tiap kapalnya diisi oleh empat anggota nelayan.

“Kita punya bagan, kita kasih bagan sama anggota. Per kapal kalau musim timur bisa ratusan juta,” ujarnya saat seperti dikutip dari detikcom.

Namun, disadari Wahyuni mengais rezeki dari laut sifatnya musiman.

Untuk itu, ia mulai berpikir mencari usaha lain untuk menutupi kerugiannya ketika hasil laut sedang tidak bagus.

“Akhirnya kebetulan saya ditawarkan kredit KUR dari BRI waktu itu, saya pakai untuk beli lahan perkebunan,” tuturnya.

“(Pinjam KUR) karena waktu itu lagi mau usaha perkebunan karena kan kalau laut gini gak menentu apa lagi saat angin musim barat gini kan,” lanjutnya.

Adapun, uang dari hasil perkebunan cengkeh yang dimilikinya kadang ia gunakan juga untuk menambal biaya logistik para nelayan anggotanya.

“Kita kasih bagan sama anggota dari belanja turun ke laut sampai belanja rumah tangga. Satu kalam (paling lama melaut 20 hari) kita kasih Rp 15 juta per bagan” ujarnya.

Sebagai pemilik usaha, tentu para nelayan anggotanya menggantungkan hidup kepada Wahyuni.

Ketika para nelayan pulang, nantinya Wahyuni akan membagi hasil tangkapan lautnya.

Selanjutnya, hasil tangkapan laut yang didapat oleh anggota nelayan tersebut ada yang dikirim langsung menggunakan mobil box ada juga yang dikirim lagi ke luar daerah Simeulue dengan menggunakan kapal kargo. (*)

LINK SUMBER FOTO

LINK SUMBER ARTIKEL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here