Home Kisah Awalnya Hobi Konsumsi Jamu, Kini Bu Desak jadi Bos Jamu Beromzet Rp...

Awalnya Hobi Konsumsi Jamu, Kini Bu Desak jadi Bos Jamu Beromzet Rp 25 Juta per Bulan

Stand Jamu Sehat Bu Desak dalam acara Pameran Kebersihan Kota Denpasar Gara-Gara Sampah Jilid II di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali, Jumat (30/8/2019)

Hobi Konsumsi Jamu, Kini jadi Bos Jamu Beromzet Rp 25 Juta per Bulan

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

GKNNEWS.COM, DENPASAR – Anda termasuk yang gemar mengonsumsi jamu?

Coba deh ikuti jejak pengusaha lokal dari Bali, Desak Putu Ayu Suartini.

Dari hobi mengonsumsi jamu, kini malah kepincut memroduksi jamu khas.

Desak Putu Ayu Suartini mampu bersaing dengan usaha kekinian.

Bu Desak, sapaan akrabnya menjadi pengusaha jamu tradisional dengan omzet yang terbilang fantastis.

Beralamat di Banjar Sibang, Jagapati, Abiansemal, Badung, ia dibantu dengan 2 karyawan memroduksi jamu-jamuan tradisionalnya dan 1 karyawan bagian marketing memasarkan produknya.

“Rata-rata omzet saya Rp 25 juta perbulan. Paling banyak ya pernah dapat Rp 32 juta,” ceritanya ramah.

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

Usaha yang dinamai Jamu Sehat Bu Desak, ia merintis usahanya sejak tahun 2016 dan hanya dibantu oleh beberapa anggota keluarga.

“Dulu awal merintis cuma dibantu keluarga saja. Makin lama saya coba menjual online dan makin banyak yang membeli dan kualahan saya produksi. Jadi saya cari orang untuk membantu lagi,” tuturnya.

Tak main-main, berkat keuletan dan kerja kerasnya, Bu Desak kini telah bekerja sama dengan 3 hotel ternama di Denpasar dan Kuta.

“Sudah 1 tahun saya bekerja sama dengan hotel-hotel untuk dijadikan wolcome drink. Biasanya pihak hotel ada yang minta 2 hari sekali ada yang 3 hari sekali. Sekali kirim ke hotel biasanya 7 jeriken isi 5 liter,” ungkapnya.

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

Meski demikian, tentu setiap usaha selalu ada asam manisnya.

Bu Desak mengungkapkan terkadang ia kesulitanendapatkan bahan baku untuk jamu-jamuan tradisionalnya karena keberadaannya yang sudah mulai langka.

Seperti daun beluntas, temu kunci, atau asem.

“Beluntas yang susah sekarang. Sudah mulai langka. Saya tanam di belakang rumah. Itupun terkadang masih kurang. Saya dibantu anak saya keliling ke sawah-sawah. Pernah sampai ke daerah Dalung untuk cari beluntas, Mbak,” ucapnya

Selain itu, ia juga mengambil bahan baku dari para petani rempah-rempah di Bali, misalnya di Karangasem.

tak jarang ia diberi beberapa bahan baku oleh tetangganya yang kemudian dibarter dengan jamu tradisional.

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

“Bahan baku saya biasanya stok 200 kilogram. Sekali buat biasanya habis 40 kilogram. Kadang ada tetangga yang ngasih bahan baku seperti beluntas itu. Mereka tidak mau diberi uang tuh, jadi barter dengan jamu.

Demi menjaga kualitas jamunya, Bu Desak memilih bahan baku yang berkualitas.

Selain itu, ia juga sudah memiliki standar ramuannya sendiri

Terdapat 5 buah jenis jamu yang dijual diantaranya JS 1 (kunyit, sirih, asam, beluntas), JS2 (kunyit, sirih, asam), JS3 (kunyit, asam), JS4 (kunyit, asam, beluntas), JS5 (kunyit), beras kencur, rapet wangi, dan bir pletok.

“Pokok kalau ada yang beli jamu saya, terus bilang lebih enakan badannya atau perutnya setelah minum jamu. Sudah bisa menyehatkan orang itu saya senang sekali,” ujarnya.

Jamu-jamuan yang ia produksi dikemas ke dalam botol kaca dan bisa refill kembali dan mendapat potongan harga sesuai ukuran botol.

Jika botol kecil mendapat potongan Rp 3 ribu, sedangkan botol besar mendapat potongan Rp 5 ribu. (*)

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

LINK SUMBER ARTIKEL

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here