Home UMKM Digitalisasi, Real Time, dan Ketahanan Pelaku UMKM

Digitalisasi, Real Time, dan Ketahanan Pelaku UMKM

DPP Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) Indonesia ikut merayakan Hari Koperasi Nasional (HARKOPNAS) Ke-72 yang digelar di Kabupaten Banyuman mulai 11-14 Juli 2019.

Digitalisasi, Real Time, dan Ketahanan Pelaku UMKM

Digitalisasi membuat batas-batas geografis runtuh. Jarak dan waktu tak lagi menjadi kendala. Interaksi dan transaksi bisnis bisa dilakukan kapan saja serta di mana saja. Informasi mengenai produk-produk terbaru, potongan harga maupun bonus belanja dapat diperbarui seketika (real time), menjadikan pelanggan dan mitra bisnis jauh lebih mudah dalam membuat keputusan.

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

GKNNEWS.COM – Upaya digitalisasi di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu hal krusial saat ini agar UMKM kita mampu terus survive dan berdaya bersaing di era Revolusi Industri 4.0.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kontribusi sektor UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) kita tampaknya kian menggeliat.

Merujuk kepada data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, kontribusi sektor UMKM terhadap PDB meningkat dari 57,84 persen menjadi 60,34 persen.

Selain itu, sektor UMKM juga telah ikut membantu penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.

Penyerapan tenaga kerja pada sektor UMKM tumbuh dari 96,99 persen menjadi 97,22 persen selama periode lima tahun terakhir.

Di masa silam, UMKM kita juga mampu membuktikan ketahanan dan eksistensinya dalam jagat perekonomian negeri ini.

Barangkali kita masih ingat bagaimana krisis moneter yang melanda Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara di pertengahan tahun 1997.

Ketika itu, fondasi ekonomi Indonesia tak kuat menahan krisis tersebut yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang semula Rp. 2.500 per dolar AS merambat liar hingga mencapai Rp 16.000 per dolar AS pada saat itu.

Buntutnya, iklim bisnis melesu dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pun jalan di tempat.

Banyak investor dan pengusaha besar yang gulung tikar dan sebagian mengalihkan modalnya ke negara-negara lain.

Namun, sektor UMKM justru mampu bertahan dan menggerakkan roda perekonomian Indonesia.

Menurut Undang-Undang nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, perusahaan yang digolongkan sebagai UMKM adalah perusahaan-perusahaan dengan kriteria sebagai berikut.

Pertama, usaha mikro yaitu usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan, yang nilai asetnya sampai 50 juta rupiah dengan pendapatan sampai 300 juta rupiah per tahun.

Kedua, usaha kecil yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dari usaha menengah atau usaha besar, dengan nilai aset antara 50 juta hingga 500 juta rupiah dengan total penghasilan sekitar 300 juta hingga 2,5 miliar rupiah per tahun.

Ketiga, usaha menengah yakni usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dengan usaha kecil atau usaha besar, yang memiliki aset sekitar 500 juta hingga 10 miliar rupiah dengan jumlah pendapatan berkisar antara 2,5 hingga 50 miliar rupiah per tahun.

Beberapa permasalahan menonjol yang sekarang ini masih dihadapi oleh UMKM kita antara lain yaitu wawasan kewirausahaan sebagian besar pelaku UMKM yang masih minim, harga produk yang kurang bersaing, minimnya akses pasar dan akses modal, sulitnya perizinan serta infrastruktur yang buruk.

Tentu saja, permasalahan-permasalahan di atas harus perlu dicarikan solusinya. Membiarkan UMKM kita terus berlarut-larut dibelit permasalahan-permasalahan tersebut hanya bakal membuat nasib UMKM kita berada di ujung tanduk dan semakin sulit bersaing dengan UMKM negara-negara lainnya.

Empat Alasan
Dalam mengarungi era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, UMKM kita perlu pula menyelaraskan dengan tuntutan zaman. Itulah sebabnya digitalisasi UMKM menjadi salah satu hal krusial untuk dilakukan. Ada beberapa alasan kenapa digitalisasi saat ini perlu dilakukan.

Pertama, memperluas target pasar. Dengan ongkos yang relatif lebih murah, bahkan gratis, sekarang UMKM dapat memanfaatkan beragam jenis platform jejaring media sosial untuk menjangkau target pasar yang lebih luas ketimbang hanya memanfaatkan iklan lewat media konvensional yang notabene biayanya lumayan tinggi.

Kedua, interaksi dan transaksi bisa lebih cepat.

Digitalisasi membuat batas-batas geografis runtuh. Jarak dan waktu tak lagi menjadi kendala. Interaksi dan transaksi bisnis bisa dilakukan kapan saja serta di mana saja. Informasi mengenai produk-produk terbaru, potongan harga maupun bonus belanja dapat diperbarui seketika (real time), menjadikan pelanggan dan mitra bisnis jauh lebih mudah dalam membuat keputusan.

Ketiga, efisiensi. Digitalisasi membuat bisnis lebih efisien, mulai dari soal proses pembelian bahan, penjualan, penggajian hingga ke soal inventarisasi barang. Digitalisasi juga memungkinkan para pengelola UMKM menyusun strategi pemasaran dan penjualan yang lebih pas untuk musim-musim tertentu.

Keempat, mendapatkan profil pelanggan yang lebih akurat dan lebih detil. Digitalisasi yang melibatkan metode metrik dan analisis online dapat bermanfaat bagi UMKM dalam menjaring profil pelanggan secara lebih akurat dan secara lebih detil. Dengan begitu, para pengelola UMKM mampu menyusun strategi produksi, pemasaran dan penjualan dengan lebih akurat dan dengan lebih detil pula.

Agar UMKM kita tidak sampai ketinggalan dalam soal digitalisasi ini, program-program pelatihan digital bagi UMKM mesti diselenggarakan secara teratur dan berkesinambungan di berbagai wilayah di negeri ini.
Kita mengapresiasi apa yang dilakukan Google Indonesia selama tiga tahun terakhir ini yang telah berhasil melatih sekurangnya satu juta pelaku UMKM dalam hal pemasaran secara online.

Kita berharap ke depan bakal semakin banyak saja pelaku UMKM kita yang memperoleh pelatihan serupa sehingga target delapan juta UMKM yang go-online di tahun 2020, sebagaimana dicanangkan pemerintah, dapat tercapai.

Bagaimanapun, era digital adalah sebuah keniscayaan. UMKM kita mesti mampu memanfaatkan kemajuan di sektor teknologi digital dewasa ini guna mengerek daya saing produk-produk yang dihasilkannya. Ke depan, diharapkan para pelaku UMKM kita dapat mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi digital dalam keseluruhan lini bisnis mereka, sehingga usaha mereka mampu terus survive dan lebih berdaya bersaing. (*)

Oleh: R Wulandari
Alumni Program Manajemen Keuangan dan Perbankan Indonesia (AKPI)

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

LINK SUMBER ARTIKEL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here