Home Kisah Kampung Patin dan Tangan Kreatif Sepasang Kekasih dari Kampar, Hasilnya Bikin Bangga

Kampung Patin dan Tangan Kreatif Sepasang Kekasih dari Kampar, Hasilnya Bikin Bangga

KAMPUNG PATIN - Wakil Sekretaris Jenderal DPP GKN Indonesia, Aman Abadi Nugraha (kanan) saat berkunjungan ke Kampung Patin tepatnay kediaman Suhaemi (kedua kanan) dan keluarga didampingi Ketua Umum DPD GKN Riau, Gandung, belum lama ini.

Kampung Patin dan Tangan Kreatif Sepasang Kekasih dari Kampar, Hasilnya Bikin Bangga

GKNNEWS.COM, RIAU – Siapa yang tak kenal Kampung Patin, wilayah terkenal dengan sentra perikanan patin di daerah Kampar-Riau.

Kampung Patin ini inisiasi Suhaemi dan Nani Widyawati pada tahun 2010 lalu.

Keduanya merupakan sepasang kekasih yang memulai usaha bisnis ikan patin dari tahun 2002.

Di tahun 2002, keduanya memulai dengan pembenihan hingga empat tahun lamanya.

Dan tahun 2006, mereka mulai pada pengolahan. Kedunya benar-benar memulai bisnis tersebut dari nol.

Usaha ikan patin ini dulu tanah perkebunan karet, yang diubah menjadi kolam ikan patin.

“Langkah ini gebrakan awal di tengah masyarakat yang mempertahankan tanah sebagai perkebunan karet,” ujar Suhaimi.

Kini setelah semuanya berubah dan menghasilkan, Kampung Patin ramai dikunjungi banyak orang dari berbagai lembaga atau kalangan masyarakat.

Misalnya, mereka datang dari pihak kampus, sekolah, ibu PKK, majelis taklim, pemerintahan, komunitas dan perusahaan.

Sekarang, luas Kampung Patin hingga 7 hektare untuk pembesaran dan 2 unit untuk pembibitannya.

Di antara fasilitasnya, tersedia tempat untuk pembibitan, tempat pelatihan, pembesaran, pengolahan, pembuatan pakan ikan, dan olahan hasil perikanan.

Fasilitas itu semua di kelola oleh Suhaemi, istri dan masyarakat sekitar.

Hasil olahannya berjumlah 11 jenis. Di antaranya, nuget steak, nuget sayur, bakso goreng, bakso rebus, batagor, kaki naga, kerupuk kulit abon, pudung/ikan asin, ikan salai/ikan asap dan fillet patin.

Kini, sekitar 1.500 penduduk di Kampung Patin diberdayakan dalam pengelolaan.

Sehingga kesejahteraan masyarakat terjamin dengan adanya pengolahan ikan patin.

Pemberdayaan masyarakat di antaranya dalam pembuatan pakan ikan, panen ikan, service pembersihan kolam, mengolah hasil perikanan, pembenihan, supplier, pemberian pakan ikan, pengasap ikan, pemasaran, dan penggilingan pelet.

Jika di rata-rata, produksi ikan asap sebanyak 12 ton sehari dalam 5 kali seminggu dan 240 ton untuk produksi bahan bakunya.

Keberhasilan Suhaimi dan Kampung Patin mengundang banyak prestasi.

Di antaranya, juara terbaik PM2KP sebagai Pusat Pelatihan se-Indonesia dari Presiden Jokowi tahun 2015.

Juara terbaik pembenihan, juara CSR EWO, kategori pelaku ekonomi tahun 2011.

Juara Adi Bakti Bina Bahari, kategori pembudidaya terbaik se-indonesia tahun 2010.

Juara Indonesian Small Medium Award tahun 2014.

“Prestasi itu semua merupakan penghargaan yang layak untuk di dapatkan,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal DPP GKN Indonesia, Aman Abadi Nugraha pada saat kunjungan ke Kampung Patin di dampingi Ketua Umum DPD GKN Riau, Gandung. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here