Home Kisah Kisah Yeny Sulastri, Guru SMK yang Berwirausaha Ikan Nila dan Gurame Segar

Kisah Yeny Sulastri, Guru SMK yang Berwirausaha Ikan Nila dan Gurame Segar

Lokasi peternakan ikan Nila dan Gurame milik Yeny Sulastri di Nglaban, Sidorejo, Jatisrono, Wonogiri.

Kisah Yeny Sulastri, Guru SMK yang Berwirausaha Ikan Nila dan Gurame Segar

GKNNEWS.COM, WONOGIRI – Tinggal di desa kecil yang jauh dari laut membuat warga sulit mendapatkan pasokan ikan segar yang sehat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Begitu juga yang dialami kebanyakan warga di Nglaban, Sidorejo, Jatisrono, Wonogiri.

Kebutuhan ikan segar dan sehat masih menjadi tantangan, khususnya untuk peternak Nila dan Gurame.

Untuk mendapat ikan segar yang terbatas jumlahnya itu, selama ini masyarakat setempat harus menempuh perjalanan jauh.

Selain itu masih jarang warga yang budidaya ikan karena rata-rata warga adalah petani.

Tanaman pangan seperti padi, jagung, singkong dan sayur-sayuran yang menjadi prioritasnya.

Kondisi itu yang dimanfaatkan Yeny Sulastri.

Ibu muda yang sehari-hari guru SMK ini jeli dalam melihat peluang usaha.

Profesi sebagai guru tidak menghalangi dirinya untuk berwirausaha, yakni budidaya ikan nila dan gurame.

Ketika dihubungi GKNNEWS.COM di sela-sela kesibukannya Mbak Yeny, sapaan akrabnya mengatakan budidaya ikan tersebut tidak terlalu sulit.

Usaha yang baru berjalan kurang lebih satu tahun itu sudah menunjukkan prospek yang luar biasa.

Usaha yang awalnya hanya untuk mengisi waktu luang ternyata membuahkan hasil.

Selain untuk dikonsumsi pribadi juga dijual ke tetangga sekitar ataupun ke pasar.

“Usaha yang dimulai satu tahun lalu dengan membuat satu kolam ikan berukuran 2,5 x 3 meter itu kini ditaksir beromzet puluhan juta rupiah,” sebutnya Selasa (26/2/2019).

Bersama dengan sang suami, Mbak Yeny berencana semua lahan yang ada di sekitar rumahnya akan dibuat kolam ikan.

Selain mengajar dan mengurus rumah tangga, mengurus kolam ikan menjadi aktifitas sehari-harinya.

Baginya, kondisi makin sulit, anak muda susah cari kerja.

Namun anak muda tidak harus merantau kekota untuk mendapatkan kerja.

Ia sangat menyayangkan banyak anak muda di desanya yang memilih merantau ke kota.

Alhasil, desanya mayoritas hanya ada orang-orang tua dan janda-janda.

“Siapapun bisa jadi wirausaha.”

Harapannya, desa semakin berdaya dengan munculnya anak muda yang mau berwirausaha.

“Wirausaha bukan hanya mencari keuntungan tetapi juga membantu orang,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here