Home Headline Lebih Dekat dengan UMKM Wonocolo dan Sosok Noerul Fitria Sang Pelopor

Lebih Dekat dengan UMKM Wonocolo dan Sosok Noerul Fitria Sang Pelopor

HEBAT: Noerul Fitria menunjukkan produk kuliner buatannya beberapa waktu lalu.

Lebih Dekat dengan UMKM Wonocolo dan Sosok Noerul Fitria Sang Pelopor

Noerul Fitria merupakan satu di antara pahlawan ekonomi di Surabaya. Dari usaha dan keringatnya, perekonomian ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kecamatan Wonocolo meningkat.

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

GKNNEWS.COM – Awalnya dia ditunjuk sebagai duta UMKM Kecamatan Wonocolo.

Sebagai duta, Noerul Fitria mempunyai tugas penting untuk membina dan meningkatkan UMKM di wilayah kerjanya.

Ketika itu, 135 pelaku usaha telah tergabung dalam paguyuban kecamatan.

Menjadi penggiat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Wonocolo dilakoni Noerul Fitria sejak 2018.

Dari jumlah tersebut, 90 persennya merupakan pelaku usaha baru. Ilmu dan kemampuan dalam berbisnis belum dimiliki.

Mereka hanya mengetahui bahwa wirausaha itu membuat produk dan menjualnya.

”Apa yang dilakukan mereka sudah benar. Tapi, belum maksimal saja,” kata perempuan yang akrab disapa Pipiet itu.

Menurut dia, menjadi wirausaha tidak cukup hanya membuat produk dan menjualnya.

Berbagai strategi harus dilakukan. Mulai promosi, packaging, hingga inovasi produk.

Tiga metode dasar tersebut dinilai sangat penting dalam menjalankan usaha. Dengan begitu, usaha itu bisa terus berkembang.

”Dan, mereka harus memahaminya,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 26 Juni 1984, tersebut. Pelatihan pun diadakan pada Sabtu dan Minggu. Pelatihan itu dilaksanakan di dua tempat. Yaitu, kantor Kecamatan Wonocolo dan Kapas Krampung Plaza (Kaza).

Mengajak pelaku usaha untuk mengikuti pelatihan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kesibukan membuat mereka tidak bisa hadir.

Hari libur biasa mereka habiskan bersama keluarga Sebab, mayoritas pelaku UMKM di Kecamatan Wonocolo adalah ibu rumah tangga.

Ditambah lagi, belum ada fasilitas transportasi menuju lokasi pelatihan.

Akibatnya, mereka semakin sulit untuk diajak mengikuti pelatihan tersebut. Padahal, pelatihan diberikan secara gratis.

”Bukan karena tidak ada transportasi umum menuju lokasi. Tapi, mereka mau disediakan kendaraan agar bisa datang sama-sama. Ya, namanya menghadapi ibu-ibu. Saya harus ekstrasabar,” ujar Pipiet.

Kondisi tersebut tak membuat warga Margorejo III, Wonocolo, itu putus asa.

Pipiet belum kehabisan akal. Menurut dia, kendaraan merupakan fasilitas yang harus diberikan.

Namun, karena tidak ada anggaran, sangat mustahil dia bisa menyediakan transportasi tersebut dengan cara menyewa.

Koordinasi kepada pihak kecamatan pun dilakukan.

Dalam koordinasi tersebut, Pipiet meminta pihak kecamatan memberikan fasilitas kendaraan untuk para pelaku usaha.

Sebab, kalau tidak, pelatihan tidak akan berjalan. Jika itu terjadi, secara otomatis UMKM di Kecamatan Wonocolo tidak akan berkembang, bahkan bisa gulung tikar.

Pihak kecamatan pun memberikan solusi. Sebuah mobil dinas satpol PP dipinjamkan.

Bukan karena pelit, pihak kecamatan juga tidak mempunyai kendaraan umum, selain mobil dinas satpol PP. Meski dinilai kurang pantas, fasilitas tersebut dirasa sudah cukup.

”Walaupun awalnya mereka tidak mau, saya tetap paksa untuk naik mobil satpol PP. Karena nggak ada pilihan, mereka pun akhirnya mau nurut,” kenang Pipiet, lantas tertawa. Dari pelatihan tersebut, banyak ilmu bisnis yang mereka dapatkan. Misalnya, berinovasi dan mempromosikan produk.

”Seperti promosi di media sosial. Dengan promosi di media sosial, produk yang mereka jual bisa diketahui banyak orang. Tidak hanya di seputaran Kecamatan Wonocolo, tapi juga daerah lain, luar kota Surabaya, bahkan luar negeri,” terangnya.

Semua teori pelatihan yang diberikan pelaksana bisa dipahami para peserta.

Tetapi, peserta belum bisa mempraktikkannya. Terutama menggunakan media sosial. Misalnya, Facebook, Instagram, Twitter, dan WhatsApp.

Akhirnya Pipiet-lah yang mempromosikan produk mereka di media sosial. Ratusan produk UMKM tersebut dipamerkan di Instagram. Akunnya bernama UMKM_Wonocolo.

Tidak sekadar mempromosikan produk di media sosial, Pipiet juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan di Wonocolo. Di antaranya, hotel dan minimarket.

Dalam koordinasi itu, Pipiet mengajak pihak perusahaan berkontribusi untuk memajukan UMKM binaannya.

Caranya, perusahaan-perusahaan tersebut menjualkan produk UMKM. Upaya kerja keras itu kembali menuai hasil.

Produk makanan, seperti kue basah, sangat diminati hotel dan minimarket.

Syaratnya, pelaku UMKM telah mempunyai izin. Mulai SIUP, label halal, hingga hasil uji tes dari BPOM terkait keamanan dan kualitas produk.

”Yowes, aku pun membantu mengurus perizinan secara kolektif,” ujarnya.

Setelah surat perizinan selesai, barulah produk mereka masuk industri lebih besar.

Hasilnya, setiap hari ratusan kue basah terjual. Kondisi tersebut membuat perekonomian mereka meningkat. (*)

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

LINK SUMBER ARTIKEL DAN FOTO

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here