Home UMKM Pelaku Koperasi dan UMKM Masih Terbatas Akses Pembiayaan ke Perbankan

Pelaku Koperasi dan UMKM Masih Terbatas Akses Pembiayaan ke Perbankan

Sejumlah warga negara asing yang menjadi volunteer enterpreneur dalam AIESEC melakukan kunjungan ke UMKM di Banyumas. Volunteer tersebut mengandeng GKN untuk menjangkau pelaku UMKM di Banyumas.

Pelaku Koperasi dan UMKM Masih Terbatasan Akses Pembiayaan ke Perbankan

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

GKNNEWS.COM – Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM, Yuana Sutyowati menegaskan bahwa aspek permodalan merupakan faktor pendukung untuk pengembangan usaha koperasi dan UMKM di Indonesia.

“Namun, koperasi dan UMKM masih memiliki keterbatasan dalam akses pembiayaan ke lembaga perbankan,” ujar Yuana pada acara Forum Konsultasi Bidang Pembiayaan, seperti dalam keterangan resminya, Jumat (6/9/2019).

Menurut data yang dihasilkan oleh Bank Indonesia (BI) Tahun 2017 lalu menunjukkan, akses UMKM ke lembaga perbankan baru mencapai 19,94% (jumlah nasabah perbankan) dan 26,04% (jumlah rekening). Padahal, data koperasi di Indonesia ada sebanyak 138.140 unit (per 31 Desember 2018), dengan jumlah anggota tercatat sekitar 26 juta lebih atau sekitar 41% dari total pelaku UMKM di seluruh Indonesia yang berjumlah sekitar 62,9 juta unit.

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

Dari jumlah koperasi tersebut, jenis usaha koperasi sektor simpan pinjam terdapat sebanyak 71.933 unit, yang terdiri dari 20.852 KSP/KSPPS (15,09%) dan 51.081 USP/USPPS (36,98%).

Koperasi memberikan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 5,1%. Sedangkan kontribusi sektor UMKM terhadap PDB nasional adalah 57,6% dengan rincian: Usaha Mikro sebesar 30,3%, Usaha Kecil 12,8%, dan Usaha Menengah 14,5%; dengan penyediaan lapangan kerja sebanyak 136,18 juta orang (97%).

“Untuk itu, forum ini diharapkan dapat memperkuat peran KSP/USP koperasi dan KSPPS/USPPS koperasi, serta lembaga pendukung pembiayaan KUMKM lainnya,” ujar Yuana.

VIDEO PELENGKAP (tak terkait berita)

Dalam implementasinya, Yuana mengakui, hal itu tidak mudah dan sangat komplek kendalanya.

Mengingat koperasi dan UMKM binaan banyak dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Sehingga, dibutuhkan koordinasi dan sinergi program antara Kemenkop dan UKM dengan pemerintah daerah, khususnya dengan dinas yang membidangi Koperasi dan UKM di daerah, serta stakeholder terkait.

Yuana menyebutkan, pihaknya memiliki beberapa program strategis di bidang pembiayaan dalam rangka peningkatan akses KUMKM ke lembaga keuangan formal (bank dan nonbank).

Antara lain, bantuan pemerintah berupa startup capital bagi wirausaha pemula (WP) dan usaha mikro. Sejak 2011 hingga 2018, terealisasi kepada 20.382 WP dengan anggaran Rp246,76 miliar.

Kedua, Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan subsidi bunga dari APBN sehingga menjadi 7%, dilaksanakan sejak 2015-2018 dengan realisasi secara kumulatif Rp324,22 triliun, dengan jumlah debitur sebanyak 13.893.262 orang.

“Realisasi KUR Tahun 2019 (per 31 Juli 2019) Rp88,53 triliun atau 63,47% dari target KUR Rp139,49 triliun. Tahun ini, sebanyak 60% KUR akan disalurkan ke sektor produktif”, imbuh Yuana.

Sedangkan realisasi pembiayaan Ultra Mikro (UMi) melalui 34 KSP/KSPPS dan USP/USPPS Koperasi (per 20 Agustus 2019) sebesar Rp704,84 miliar yang disalurkan kepada 223.361 anggota.

“Pembiayaan UMi bersumber dari PIP/BLU di bawah Kementerian Keuangan RI”, tukas Yuana.

Lebih dari itu, kata Yuana, sudah ada koordinasi dan sinergi pengembangan lembaga pendukung pembiayaan KUMKM, antara lain meliputi realisasi PPKD di 18 Provinsi, dan BLUD di 19 wilayah (3 provinsi dan 19 Kabupaten/Kota).

“Ada juga pendampingan usaha mikro dan kecil untuk akses pembiayaan pasca mendapatkan Sertifikat Hak Atas Tanah atau SHAT”, kata Yuana.

Oleh karena itu, bagi Yuana, forum ini sangat strategis sebagai media komunikasi pemeritah pusat dan daerah serta stakeholder lainnya, dalam rangka pemantapan koordinasi dan sinergi program pemberdayaan koperasi dan UMKM.

“Forum konsultasi ini diharapkan dapat memberikan solusi untuk menjawab beberapa permasalahan dan hambatan dalam upaya peningkatan akses KUMKM ke lembaga keuangan formal”, tandas Yuana. (*)

LINK SUMBER ARTIKEL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here